The Twins
Semenjak Ayahku meninggal kami pindah kerumah yang lebih
sederhana dan sekolah yang dekat dari rumah itu, menjual perabotan yang tak
perlu untuk membangun usaha Bunda. Dan semenjak aku masuk SMP baru aku jadi
sebal sama Nika, dia selalu menjadi pusat perhatian dan membuatku seperti
satu-satu orang dilubang hitam. Namaku Anita Safira, pangil saja Nita aku lebih
suka membaca buku dari pada menari dan berdandan seperti saudara kembarku Anika
Safitri. Ya, aku mengakui kalau Nika memang lebih cantik dari aku tapi aku dan
Nika ‘kan kembar jadi seharusnya kami berdua
sama-sama menjadi pusat perhatian bukan cuma Nika saja. Seandainya Nika tidak
dilahirkan di dunia ini pasti aku nggak akan sepperti orang yang mencari jarum
ditumpukan jerami.
Nika punya bakat dan pesona yang tinggi sebagai ketua tim cheers
di sekolah baru, tapi kenapa dia selalu jadi yang terbaik dimata semua orang
bahkan Bunda. Kalau hidupku begini terus bukankah Tuhan seharusnya tak perlu
memberiku waktu untuk hidup yang dapat menyiksaku seperti ini.
Tapi ketika Ayah akan meninggal beliau berpesan agar selalu
menghargai hidup ini dan tidak berfikir kalau kita hidup didunia ini hanya
untuk tersiksa. Aku percaya pada pesan terakhir Ayah padaku, andai saja Ayah
masih disini pasti aku tak akan berfikir bodoh seperti ini. Ayah Nita sayang
sekali pada Ayah tapi, kenapa Ayah meninggalkan aku sendiri di dunia fana ini?
Apa ayah tidak sayang pada Nita? Atau Ayah ingin Nita juga menyusul Ayah? Ayah
Nita bingung, harus bagaimana? Apa Nita harus mati saja…
Berulang kali aku berusaha mengakhiri hidupku tapi aku selalu
saja tertolong dan nggak jadi mati. Aku ditabrak mobil sampai hampir mati tapi
ternyata aku selamat setelah mengalami kekurangan darah. Aku pernah mencoba
meminum racun tapi ternyata racun itu hayan bohong semata. Sampai akhirnya hari
ini aku berharap mati diterik matahari ini, aku sengaja memanfaatkan hari senin
ini karena aka nada upacara dan saat aku akan pingsan aku akan menahan diri
supaya bisa mengakhiri hidupku. “Tubuhku mulai tak bisa kukendalikan aku akan jatuh ketanah dan
terbentur lalu aku bisa mati”
Pikirku. Saat aku terjatuh seseorang yang wajahnya tak terlihat oleh mataku
menangkapku…
Perlahan kubuka mataku dan ternyata aku ada di UKS, tapi aku tak
sendirian disini ada Romi. “
Romi!” Pekikku. “ Kamu, kenapa kamu menolong aku!? Harusnya kamu biarkan saja aku
tadi!” Kataku
geram melihatnya.
“ Seharusnya kamu berterimakasih, bukannya malah marah-marah” Katanya.
“ Kamu nggak tahu apapun tentangku jadi jangan berkomentar” Aku menyela.
“ Pantas saja lebih banyak anak yang suka sama kembaranmu dari
pada kamu, kamu aneh dan tak mau mendengarkan kata-kata orang lain itu sebabnya
mereka tak menyukaimu”
Katanya menasehatiku. Romi ini teman sekelasku yang katanya selalu
memperhatikanku, kurasa dia ingin tahu segalanya tentangku tapi untuk apa?
Tanpa berfikir panjang aku meminta maaf pada Romi dan memintanya mengerti
keadaanku.
Pukul 09.30 aku bersama romi mengobrol di belakang kelas. Aku
ingin Romi mengerti keadaanku dan tak berfikir kalau aku ini sejahat itu.
“ Apa kamu bisa menjaga rahasia besar ini?” Tanyaku.
“ Tentu karena ini rahasia jadi aku nggak akan memberi tahu
siapapun” Jawabnya meyakinkan.
“ Sebenarnya aku itu sudah sakit-sakitan dari dulu dan aku juga
tidak punya banyak waktu selama Nika masih dekat denganku aku nggak akan bisa
sembuh. Ayahku meninggal saat aku masih kelas empat SD, aku merasa nggak ada
gunanya hidup didunia ini jadi aku sangat ingin sekali mati,” Kataku meneteskan air mata.
“ Seharusnya kamu tidak berikir seperti itu dan bisa percaya
bahwa manusia dilahirkan didunia ini pasti memiliki manfaat dan sudah ada
rencana teresendiri dari Tuhan,”
Romi mulai menasehatiku. Kata-katnya seperti Ayah aku menangis mendengar
nasehatnya dan berjanji akan berubah untuk Ayah.
Saat pulang sekolah aku langsung ganti baju dan bercermin, aku
memandangai diriku sendiri dan mulai membuka kuncir rambutku.. Aku mulai
merubah gaya rambut ikalku dan membersihkan wajahku. Ternyata rambutku juga
nggak kalah bagus sama Nika dan wajahku malah lebih cantik dari Nika. Selama
ini aku dibelenggu oleh iblis yang terus membakarku denan masa lalu yang
menyedihkan. Sungguh, aku berterima kasih pada Romi dia adalah malaikat yang
merubah hidupku.
Biasanya aku cuek dengan penampilan dan lebih mementingkan
ucapan iblis dikepalaku. Sekarang aku adalah Anita Safira yang baru dengan
sifat alamiku yang sebenarnya baik, pendiam, dan sopan. Aku percaya jika aku
berubah dan berfikir potif aku pasti bisa menjadi pusat perhatian seperti
kembaranku, Nika.
Keesokan harinya aku barangkat kesekolah memakai sepedah,
berbeda dengan Nika yang lebih suka nebeng sama teman-temannya yang orang kaya.
Aku mengayuh pedal sepedahku dengan penuh semangat. Sampai dikelas aku mengetuk
pintu dan mengucapkan salam, semua mata tertuju padaku dan membalas salamku tak
seperti biasanya. Aku tak mau lagi duduk sebangku dengan Nika aku memilih duduk
sebangku dengan Romi.
“ Terimakasih”
Kataku.
“ Jangan berterima kasih aku hanya ingin kamu tidak mendengarkan
iblis dikepalamu kok”
kata Romi merendahkan diri. “
Ya, aku akui kamu memang lebih cantik dari pada Nika dan wajahmu lebih putih
bahkan putih pucat”
Katanya lagi. Aku hanya tersenyum dan mengerti karena aku sedang sakit makannya
aku pucat.
Kulihat dari dalam kelas saat istirahat pertama ini Nika dan
teman-temannya masih digerumbuli oleh fansnya tapi, aku malah makan nasi dan
mie goreng. Kemudian saat aku keluar kelas semua fans Nika terkejut dan bingung
seperti tak penah melihat aku.
“ Kamu murid baru ya?” Tanya salah satu anak sambil mengkucek matanya.
“ Tidak, nama saya Anika Safia. Mungkin dulu kalian tidak pernah
melihat saya tapi sekarang sudah berubah ya” Jawabku dengan senyum. “ Permisi”
Sambungku.
Aku berjalan ke lapangan basket tempat Romi dan teman-temannya
bermain basket setia istirhat pertama. Sebagai tanda terimakasih aku ingin
memberikan bekal yang aku buat untuk Romi agar dia mau menjadi orang yan bisa
menjadi inspirasiku. Saat permainan selesai aku memanggil Romi dan mengelap
keringatnya dengan handuknya.
“ Ini sebagai tanda terimakasih dan permintaan maaf telah merepotkanmu” Kataku sambil memberikan bekal itu. Romi
menolak.
“ Nggak perlu, aku cuma bingung waktu itu ngelihat kamu jadi
orang asaiing sedangkan kembaranmu jadi pusat perhatian makannya aku membantumu” Katanya merendahkan diri.
“ Tapi kalau kamu tidak mau nanti siapa yang makan bekal ini?” Tanyaku menawarkan lagi.
“ Kita saja”
Jawab anak-anak basket.
“ Begini saja, setelah kamu terima terserah kamu mau diapakan
bekal ini” Kataku memberikan bekal itu lalu pamit pergi
ke kelas. Aku cukup senang bisa membalas kebaikan Romi.
Hampir dua minggu Nita menjadi pusat perhatian tentunya hal yang
membuatnya mulai dirasuki iblis karena telah ketagihan menjadi anak yang
terkenal di club maupun seluruh sekolah. Bahkan apapun milik Nika juga bisa
dimiliki Nita mulai sekarang
Dirumah aku seperti biasa membersihkan wajah dan membaca buku di
teras rumah sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Tiba-tiba Nika menghampiriku
dan menariku ke kamar nya.
“ Mau kamu apa sih?” Tanya Nika. Iblis berbisik ditelingaku.
“ Nggak ada, aku cuma ingin sepertimu kok” Jawab ku dituntun iblis.
“ Kamu sama aja mau ngehancurin karir aku sebagai ketu tim chrees
tau!?” Kata Nika mulai geram.
“ Bukannya kamu sudah mendapaikan segalanya, fans, Bunda, jadi
pusat perhatian, dan teman-teman yang semuanya orang kaya. Seperti di mimpimu
kan?” Tanyaku sinis.
“Memang kamu fikir asyik apa, punya banyak fans yang kayak lalat
yang mengelilingi waktu lagi makan? Aku tersiksa tau waktu teman-temanku
ngomongin soal benda mewah mereka sedangkan aku nggak punya apapun untuk
dipamerkan?” Tanya Nika balik.
Kamipun semakin memanas
dan bertengkar semakin heboh sampai Bunda melerai kami. Dan sialnya Bunda malah
menyalahkan aku yang delapan puluh persen nggak salah dan membela anak emasnya
Nika yang memulai semuanya duluan.
“ Cukup, jangan saling menyalahkan! Sekarang Nita kamu Bunda
hukum,” Kata Bunda yang ku sela.
“ Bunda selalu tidak pernah adil dan membela Nika. Bunda selalu
meng-anak emaskan Nika dan menganggap Nita sebagai orang asing. Bunda jahat!” Selaku .
Lalu akupergi ke halaman belakang yang cukup luas untuk tempatku
mengadu seperti dulu. Bunda mencariku kekamar dan ke teras tapi aku tak disana,
Bunda menemukanku menangis tersedu-sedu dan memukul-mukul buku yang tadi
kubaca. “ Kenapa aku harus jadi seperti ini? Kenapa aku
selalu jadi orang asing bahkan dirumahku sendiri? Atau aku bukan anak bunda?” Tanyaku bingung dalam hati. Bunda berusaha
memelukku tapi aku mengelak.
“ Jangan sentuh aku, aku ini bukan anak Bunda kan?” Kataku kesal.
“ Nita, maafkan bunda yang selalu membela Nika dan lebih
menyayangi Nika dari pada Nita. Tapi sebenarnya Bunda sangat sayang pada Nita
melebihi Nika, karena Nita lebih kuat dari pada Nika dan Nita tak pernah
mengeluh mengenai apapun,”
Kata Bunda mulai memegang bahuku.
“ Kenapa bunda membela anak manja itu, bukannya itu membuatnya
makin manja dan nggak perduli perasaan orang lain” Kataku sambil melirik Bunda.
“ Nika memang manja karena dia anak bungsu dan Bunda sebenarnya
bukan membela Nika tapi tidak menyalahkan Nika yang anak bungsu,” Jelas Bunda.
“ Kenapa semua harus disalahkan pada yang tertua? Bukankah itu
egois dan pilih kasih?”
Tanyaku.
“ Setiap kakak memiliki kewajiban untuk menjaga adiknya, begitu
pula adiknya memiliki kewajiban untuk menghormati kakaknya. Bunda tahu selama
ini Nita diam agar bunda tidak marah meski semua harus disalahkan pada Nita,
hal yang dilakukan Nita itu baik tapi akan jadi berbeda jika Bunda lebih
percaya pada Nika,”
Jelas Bunda mulai duduk disampingku.
“ Kalau begitu sama saja Bunda pilih kasih dan tidak percaya pada
apapun yang dikatakan Nita walaupun itu selalu benar, Bunda tak seperti Ayah
yang bisa memutuskan dengan baik siapa yang salah dan yang benar” Protesku pada sikap Bunda selama ini.
“ Bunda bukan Ayah yang bisa berfikir positif dalam menghadapi
msalah dengan mudah, tapi bunda tahu suatu rumus yang membuat Bunda percaya
pada keputusan Bunda”
Jelas Bunda.
“ Apa itu?”
Tanyaku.
“ Itu adalah bagai mana seorang ibu bisa menyayangi anaknya
dengan cara yang berbeda tapi dengan rasa cinta yang sama dan tak berbeda” Jawab Bunda. Kami terdian ku dengar langkah
dari belakang yang ternyata adalah Nika yang mendengarkan pembicaraan kami
sejak tadi. Nika berjalan kearahku dan duduk disampingku, dia mengulurkan
tangan dan meminta maaf dia bilang dia mengerti bagaimana perasaan ku yang
ternyata sama atau bahkan lebih menyakitkan dari yang dia rasakan. Bahkan Nika
takpernah mau membayangkan bagaimana jika dia jadi aku pasti dia akan langsung
loncat dari lantai 3 gedung.
Yah, kami dalah anak
kembar yang memiliki kehidupan yang berbeda tapi merasakan hal yang hampir
sama. Yang terbaik adalah suatu perbedaan akan menjadikan suatu persamaan, dan hal yang
dirasakan oleh seseorang belum tentu bisa dirasakan oleh orang lain.
Oleh: Wahdhaniyah A.C.A
Tanggal: 17 April 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar