Rabu, 24 September 2014

Cerita Keluarga



The Twins
Semenjak Ayahku meninggal kami pindah kerumah yang lebih sederhana dan sekolah yang dekat dari rumah itu, menjual perabotan yang tak perlu untuk membangun usaha Bunda. Dan semenjak aku masuk SMP baru aku jadi sebal sama Nika, dia selalu menjadi pusat perhatian dan membuatku seperti satu-satu orang dilubang hitam. Namaku Anita Safira, pangil saja Nita aku lebih suka membaca buku dari pada menari dan berdandan seperti saudara kembarku Anika Safitri. Ya, aku mengakui kalau Nika memang lebih cantik dari aku tapi aku dan Nika kan kembar jadi seharusnya kami berdua sama-sama menjadi pusat perhatian bukan cuma Nika saja. Seandainya Nika tidak dilahirkan di dunia ini pasti aku nggak akan sepperti orang yang mencari jarum ditumpukan jerami.
Nika punya bakat dan pesona yang tinggi sebagai ketua tim cheers di sekolah baru, tapi kenapa dia selalu jadi yang terbaik dimata semua orang bahkan Bunda. Kalau hidupku begini terus bukankah Tuhan seharusnya tak perlu memberiku waktu untuk hidup yang dapat menyiksaku seperti ini.
Tapi ketika Ayah akan meninggal beliau berpesan agar selalu menghargai hidup ini dan tidak berfikir kalau kita hidup didunia ini hanya untuk tersiksa. Aku percaya pada pesan terakhir Ayah padaku, andai saja Ayah masih disini pasti aku tak akan berfikir bodoh seperti ini. Ayah Nita sayang sekali pada Ayah tapi, kenapa Ayah meninggalkan aku sendiri di dunia fana ini? Apa ayah tidak sayang pada Nita? Atau Ayah ingin Nita juga menyusul Ayah? Ayah Nita bingung, harus bagaimana? Apa Nita harus mati saja
Berulang kali aku berusaha mengakhiri hidupku tapi aku selalu saja tertolong dan nggak jadi mati. Aku ditabrak mobil sampai hampir mati tapi ternyata aku selamat setelah mengalami kekurangan darah. Aku pernah mencoba meminum racun tapi ternyata racun itu hayan bohong semata. Sampai akhirnya hari ini aku berharap mati diterik matahari ini, aku sengaja memanfaatkan hari senin ini karena aka nada upacara dan saat aku akan pingsan aku akan menahan diri supaya bisa mengakhiri hidupku. Tubuhku mulai tak bisa kukendalikan aku akan jatuh ketanah dan terbentur lalu aku bisa mati Pikirku. Saat aku terjatuh seseorang yang wajahnya tak terlihat oleh mataku menangkapku
Perlahan kubuka mataku dan ternyata aku ada di UKS, tapi aku tak sendirian disini ada Romi. Romi! Pekikku. Kamu, kenapa kamu menolong aku!? Harusnya kamu biarkan saja aku tadi!  Kataku geram melihatnya.
Seharusnya kamu berterimakasih, bukannya malah marah-marah Katanya.
Kamu nggak tahu apapun tentangku jadi jangan berkomentar Aku menyela.
Pantas saja lebih banyak anak yang suka sama kembaranmu dari pada kamu, kamu aneh dan tak mau mendengarkan kata-kata orang lain itu sebabnya mereka tak menyukaimu Katanya menasehatiku. Romi ini teman sekelasku yang katanya selalu memperhatikanku, kurasa dia ingin tahu segalanya tentangku tapi untuk apa? Tanpa berfikir panjang aku meminta maaf pada Romi dan memintanya mengerti keadaanku.
Pukul 09.30 aku bersama romi mengobrol di belakang kelas. Aku ingin Romi mengerti keadaanku dan tak berfikir kalau aku ini sejahat itu.
Apa kamu bisa menjaga rahasia besar ini? Tanyaku.
Tentu karena ini rahasia jadi aku nggak akan memberi tahu siapapun Jawabnya meyakinkan.
Sebenarnya aku itu sudah sakit-sakitan dari dulu dan aku juga tidak punya banyak waktu selama Nika masih dekat denganku aku nggak akan bisa sembuh. Ayahku meninggal saat aku masih kelas empat SD, aku merasa nggak ada gunanya hidup didunia ini jadi aku sangat ingin sekali mati, Kataku meneteskan air mata.
Seharusnya kamu tidak berikir seperti itu dan bisa percaya bahwa manusia dilahirkan didunia ini pasti memiliki manfaat dan sudah ada rencana teresendiri dari Tuhan, Romi mulai menasehatiku. Kata-katnya seperti Ayah aku menangis mendengar nasehatnya dan berjanji akan berubah untuk Ayah.
Saat pulang sekolah aku langsung ganti baju dan bercermin, aku memandangai diriku sendiri dan mulai membuka kuncir rambutku.. Aku mulai merubah gaya rambut ikalku dan membersihkan wajahku. Ternyata rambutku juga nggak kalah bagus sama Nika dan wajahku malah lebih cantik dari Nika. Selama ini aku dibelenggu oleh iblis yang terus membakarku denan masa lalu yang menyedihkan. Sungguh, aku berterima kasih pada Romi dia adalah malaikat yang merubah hidupku.
Biasanya aku cuek dengan penampilan dan lebih mementingkan ucapan iblis dikepalaku. Sekarang aku adalah Anita Safira yang baru dengan sifat alamiku yang sebenarnya baik, pendiam, dan sopan. Aku percaya jika aku berubah dan berfikir potif aku pasti bisa menjadi pusat perhatian seperti kembaranku, Nika.
Keesokan harinya aku barangkat kesekolah memakai sepedah, berbeda dengan Nika yang lebih suka nebeng sama teman-temannya yang orang kaya. Aku mengayuh pedal sepedahku dengan penuh semangat. Sampai dikelas aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam, semua mata tertuju padaku dan membalas salamku tak seperti biasanya. Aku tak mau lagi duduk sebangku dengan Nika aku memilih duduk sebangku dengan Romi.
Terimakasih Kataku.
Jangan berterima kasih aku hanya ingin kamu tidak mendengarkan iblis dikepalamu kok kata Romi merendahkan diri. Ya, aku akui kamu memang lebih cantik dari pada Nika dan wajahmu lebih putih bahkan putih pucat Katanya lagi. Aku hanya tersenyum dan mengerti karena aku sedang sakit makannya aku pucat.
Kulihat dari dalam kelas saat istirahat pertama ini Nika dan teman-temannya masih digerumbuli oleh fansnya tapi, aku malah makan nasi dan mie goreng. Kemudian saat aku keluar kelas semua fans Nika terkejut dan bingung seperti tak penah melihat aku.
Kamu murid baru ya? Tanya salah satu anak sambil mengkucek matanya.
Tidak, nama saya Anika Safia. Mungkin dulu kalian tidak pernah melihat saya tapi sekarang sudah berubah ya Jawabku dengan senyum. Permisi Sambungku.
Aku berjalan ke lapangan basket tempat Romi dan teman-temannya bermain basket setia istirhat pertama. Sebagai tanda terimakasih aku ingin memberikan bekal yang aku buat untuk Romi agar dia mau menjadi orang yan bisa menjadi inspirasiku. Saat permainan selesai aku memanggil Romi dan mengelap keringatnya dengan handuknya.
Ini sebagai tanda terimakasih dan permintaan maaf telah merepotkanmu Kataku sambil memberikan bekal itu. Romi menolak.
Nggak perlu, aku cuma bingung waktu itu ngelihat kamu jadi orang asaiing sedangkan kembaranmu jadi pusat perhatian makannya aku membantumu Katanya merendahkan diri.
Tapi kalau kamu tidak mau nanti siapa yang makan bekal ini? Tanyaku menawarkan lagi.
Kita saja Jawab anak-anak basket.
Begini saja, setelah kamu terima terserah kamu mau diapakan bekal ini Kataku memberikan bekal itu lalu pamit pergi ke kelas. Aku cukup senang bisa membalas kebaikan Romi.
Hampir dua minggu Nita menjadi pusat perhatian tentunya hal yang membuatnya mulai dirasuki iblis karena telah ketagihan menjadi anak yang terkenal di club maupun seluruh sekolah. Bahkan apapun milik Nika juga bisa dimiliki Nita mulai sekarang
Dirumah aku seperti biasa membersihkan wajah dan membaca buku di teras rumah sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Tiba-tiba Nika menghampiriku dan menariku ke kamar nya.
Mau kamu apa sih? Tanya Nika. Iblis berbisik ditelingaku.
Nggak ada, aku cuma ingin sepertimu kok Jawab ku dituntun iblis.
Kamu sama aja mau ngehancurin karir aku sebagai ketu tim chrees tau!? Kata Nika  mulai geram.
Bukannya kamu sudah mendapaikan segalanya, fans, Bunda, jadi pusat perhatian, dan teman-teman yang semuanya orang kaya. Seperti di mimpimu kan? Tanyaku sinis.
Memang kamu fikir asyik apa, punya banyak fans yang kayak lalat yang mengelilingi waktu lagi makan? Aku tersiksa tau waktu teman-temanku ngomongin soal benda mewah mereka sedangkan aku nggak punya apapun untuk dipamerkan? Tanya Nika balik.
 Kamipun semakin memanas dan bertengkar semakin heboh sampai Bunda melerai kami. Dan sialnya Bunda malah menyalahkan aku yang delapan puluh  persen nggak salah dan membela anak emasnya Nika yang memulai semuanya duluan.
Cukup, jangan saling menyalahkan! Sekarang Nita kamu Bunda hukum, Kata Bunda yang ku sela.
Bunda selalu tidak pernah adil dan membela Nika. Bunda selalu meng-anak emaskan Nika dan menganggap Nita sebagai orang asing. Bunda jahat! Selaku .
Lalu akupergi ke halaman belakang yang cukup luas untuk tempatku mengadu seperti dulu. Bunda mencariku kekamar dan ke teras tapi aku tak disana, Bunda menemukanku menangis tersedu-sedu dan memukul-mukul buku yang tadi kubaca. Kenapa aku harus jadi seperti ini? Kenapa aku selalu jadi orang asing bahkan dirumahku sendiri? Atau aku bukan anak bunda? Tanyaku bingung dalam hati. Bunda berusaha memelukku tapi aku mengelak.
Jangan sentuh aku, aku ini bukan anak Bunda kan? Kataku kesal.
Nita, maafkan bunda yang selalu membela Nika dan lebih menyayangi Nika dari pada Nita. Tapi sebenarnya Bunda sangat sayang pada Nita melebihi Nika, karena Nita lebih kuat dari pada Nika dan Nita tak pernah mengeluh mengenai apapun, Kata Bunda mulai memegang bahuku.
Kenapa bunda membela anak manja itu, bukannya itu membuatnya makin manja dan nggak perduli perasaan orang lain Kataku sambil melirik Bunda.
Nika memang manja karena dia anak bungsu dan Bunda sebenarnya bukan membela Nika tapi tidak menyalahkan Nika yang anak bungsu, Jelas Bunda.
Kenapa semua harus disalahkan pada yang tertua? Bukankah itu egois dan pilih kasih? Tanyaku.
Setiap kakak memiliki kewajiban untuk menjaga adiknya, begitu pula adiknya memiliki kewajiban untuk menghormati kakaknya. Bunda tahu selama ini Nita diam agar bunda tidak marah meski semua harus disalahkan pada Nita, hal yang dilakukan Nita itu baik tapi akan jadi berbeda jika Bunda lebih percaya pada Nika, Jelas Bunda mulai duduk disampingku.
Kalau begitu sama saja Bunda pilih kasih dan tidak percaya pada apapun yang dikatakan Nita walaupun itu selalu benar, Bunda tak seperti Ayah yang bisa memutuskan dengan baik siapa yang salah dan yang benar Protesku pada sikap Bunda selama ini.
Bunda bukan Ayah yang bisa berfikir positif dalam menghadapi msalah dengan mudah, tapi bunda tahu suatu rumus yang membuat Bunda percaya pada keputusan Bunda Jelas Bunda.
Apa itu? Tanyaku.
Itu adalah bagai mana seorang ibu bisa menyayangi anaknya dengan cara yang berbeda tapi dengan rasa cinta yang sama dan tak berbeda Jawab Bunda. Kami terdian ku dengar langkah dari belakang yang ternyata adalah Nika yang mendengarkan pembicaraan kami sejak tadi. Nika berjalan kearahku dan duduk disampingku, dia mengulurkan tangan dan meminta maaf dia bilang dia mengerti bagaimana perasaan ku yang ternyata sama atau bahkan lebih menyakitkan dari yang dia rasakan. Bahkan Nika takpernah mau membayangkan bagaimana jika dia jadi aku pasti dia akan langsung loncat dari lantai 3 gedung.
 Yah, kami dalah anak kembar yang memiliki kehidupan yang berbeda tapi merasakan hal yang hampir sama. Yang terbaik adalah suatu perbedaan  akan menjadikan suatu persamaan, dan hal yang dirasakan oleh seseorang belum tentu bisa dirasakan oleh orang lain.


 Oleh: Wahdhaniyah A.C.A
Tanggal: 17 April 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar